Blog

Tukang Becak di Stasiun

Berjalan keluar stasiun

Di pintu keluar disambut para tukang becak

Mereka menawarkan jasanya kepada para penumpang kereta yang baru tiba di stasiun

Termasuk aku

Masing-masing tukang becak berkata:

“Mbak terminal?”

“Becak mbak e”

“Mau kemana mbak?”

“Becaknya mbak”

Kebanyakan yang ditawari cuek, tak menjawab

Diam saja

Aku kesal sama orang-orang yang cuek diam

Apa salahnya menjawab “Tidak pak, terimakasih” kalau memang tidak akan naik becak

Dari raut muka bapak-bapak tukang becak, pastinya kecewa

Ada satu bapak tukang becak menghampiriku dan menawarkan jasanya

“becak mbak”

“Tidak pak, maturnuwun, ada temen yang mau jemput”

Bapaknya pun pergi

Pasti kecewa, pikirku

Sambil menunggu teman, aku melihat mobil-mobil yang diparkir diparkiran stasiun

Terlintas saja dipikiranku, orang-orang bermobil mungkin bisa memenuhi apa yang yang jadi kebutuhan dan keinginannya dengan mudah

Tukang becak mungkin bisa juga tapi pasti dengan perjuangan yang luar biasa

Dalam hati: sungguh setiap orang punya rejekinya masing-masing

Allah yaa Rabbi

 

(Stasiun Solo Balapan, 23 Oktober 2016)

 

Lagu yang pas di dengerin

Memang benar

Kalau suasana hati sedang rapuh

Dengerin lagu sendu, slow, lirik sedih, itu ngena banget

Jadi terbawa seolah aku adalah subjek dari lirik lagu

Seolah aku karakter di lagu

Kalau kata orang, dengerin lagu yang nyamangatin

biar rapuhnya ilang

Tapi serius kalau nurutin orang

gak bakal ngaruh, malah jadi gak enak dengerinnya

rasanya gak bisa masuk ke dalam lagunya

gak enak

karena lagu yang pas dan enak di dengar

lagu yang sesuai suasana hati

Pasti pada setuju, iya kan?! 😛

 

(KA Joglokerto, 7 Januari 2017)

Baca ini jadi tahu “The Script”

Siapa sih yang gak pernah dengar lagu “Hall of Fame” atau “The man who can’t be moved”. Dua lagu hits ini memang sering terdengar dimana-mana. Aku ceritakan ya, kenapa aku nge-fans banget sama band pemilik dua lagu tersebut. Sebelum aku tau siapa penyanyi lagu itu, aku udah suka duluan sama lagunya. Karena penasaran, mulai deh googling dan akhirnya tahu pemilik kedua lagu tersebut. Setelah kepo-kepo, ternyata band ini juga punya lagu lain yang berhasil bikin aku tambah nge-fans banget sama lagu-lagunya. Contohnya nih yang judulnya Nothing, I’m yours, superheroes dan lainnya. Menurutku sih, lagu-lagu The Script cocok banget buat orang yang patah hati akibat cinta bertepuk sebelah tangan, ditinggal sang pujaan hati, susuah move on dan orang yang benar-benar mencintai sang kekasih, kok aku jadi sedih ya 😥 Selain itu juga pas banget buat motivasi semangat hidup dan buat orang yang ingin bangkit dari keterpurukan, lagu “Hall of Fame” cocok tuh.

Hmmm itu ceritaku awal mula nge-fans The Script. Lanjut tentang band kesukaan ku ini ya.

*Mulai serius*

The script adalah band Irlandia aliran pop rok yang terbentuk pada tahun 2001 di Dublin, Ireland. Sejak berdiri band ini terdiri dari 3 personil yaitu Danny O’Donoghue (vokalis&keyboardist), Mark Sheehan (gitaris), dan Glen Power (drummer).

Danny dan mark sudah berteman sejak usia 12 tahun. Sebenarnya mereka berdua pernah membuat band bernama Mytown pada tahun 1996. Dalam perjalanannya mereka berdua mencari drummer untuk band barunya “The script”. Bertemulah Glen power yang menjadi drummer. Sampai sekarang The Script  belum pernah berganti personil loh. Keren ya!

Ini Danny sang vokalis.

Screenshot_2017-04-08-23-31-33

Ini Mark sang gitaris.

Screenshot_2017-04-08-23-31-38

Ini Glen sang drummer.

Screenshot_2017-04-08-23-31-13

Album pertama tahun 2008 dengan lagu hitsnya “The man who can’t be moved” dan “breakeven (falling to pieces) berhasil meraih posisi pertama chart lagu di Ireland dan UK. Kemudian pada tahun 2010, The Script membuat album kedua “Science & Faith” dan lagu-lagunya adalah “For the first time”, “Nothing”, “Hall of fame”. Album “No Sound without silence” tahun 2014 menjadi album ketiganya dengan lagu “Superheroes”.

 

 

 

Gak hilang dan gak akan hilang

Ketika kau bilang “Itu namanya cinta sejati makanya gak bisa hilang”
Dalam detik itu aku berpikir dan ingin sekali ku ungkapkan “benar! Ini cinta sejati gak akan hilang”
Nyatanya kau paham “Gak mungkin akan hilang”
Tapi kau memaksaku untuk menghilangkannya
Walau dipaksa, tak akan pernah bisa hilang
Kau sudah tahu “Gak mungkin hilang”
Ketika kau muak dengan perasaanku yang gak hilang
Begitupun aku, aku juga muak
Kau dan aku sudah tahu “gak akan bisa hilang dan gak mungkin hilang”
Kita sudah tahu itu, kenapa kau memaksaku untuk menghilangkan?
Sudah tahu hasilnya “gak akan hilang”
Iya, memaksakan yang sudah tahu hasilnya itu menyakiti perasaan
Sekarang aku bilang “Gak hilang dan gak akan”
 (Jogja, 13 Oktober 2016)