Buah Tangan dari Pergi

Aku suka banget baca-baca puisi,  aku follow akun instagram dan line yang contentnya berupa puisi-puisi gitu. Hari ini aku mau share salah satu puisi yang aku baca siang ini. Gak tau judulnya apa, soalnya gak dicantumin, aku tulis judul yang di ambil dari baris pertama. Puisi ini ngena banget nih, alias membuat baperku kambuh. Paham banget dah yang sedang dirasain sama si  pembuat puisi ini (gak tau siapa yang bikin, tertulis “s.t.k”) Soalnya aku pernah begitu juga. Hiks.

Buah tangan dari pergi
itu selalu berupa bingkisan
dengan warna yang sama;

sembab di mata,
hitam di sekitar rongga dada.
lembab di kepala, dan-
lebam disini saja.

karena disana,
kau tidak merasakan apa-apa.

(s.t.k)

Jakarta, 13 September 2017.

Iklan

Melihat mereka, aku iri dan menyesal

Sedih rasanya melihat mereka yg sedang kuliah di kampus impianku
Sedih
Iri
Nyesel
Kenapa dulu gak berusaha keras biar kuliah disana
Mungkin aku akan punya pengalaman yg sama seperti mereka
Menimba ilmu disana
Mendewasakan diri disana
Mengasah skill dan bakat disana
Berkarya disana
Belajar merintis karir disana
Bahkan melanjutkan study S2 disana
Seandainya bisa kembali dimasa lulus SMA
Aku akan semaksimal mungkin berjuang untuk kuliah disana
Setiap melihat mereka yg disana
Setiap melihat kegiatan mereka
Setiap melihat tempat mereka yg disana
Entah kampus, asrama, lapangan, taman, perpustakaan, ruang rapat, basecamp organisasi dan lainnya
Dalam hati selalu mengatakan “ya, itu semua pas, cocok, tepat dengan diriku”
Seandainya aku ada disana bersama mereka
Terbesik termotivasi untuk seperti mereka
Tapi hanya angan
Usia, keadaan, situasi yg tak memungkinkan
Yang aku lakukan sekarang
Mencoba, berusaha ridho ikhlas dan berpikir positif dengan aku yg sekarang

Setelah melihat mereka di IG, September 2017

Kamu jam sebelas

Pulang jam segini

Jam 11.30 malam

Waktu Indonesia

Teringat ceritamu

Tentang pekerjaanmu

Pulang jam 11san

Setiap harinya

Kebayang capeknya

Kebayang pulangnya

Kebayang naik transportasi umumnya

Kebayang perjuangannya

Kebayang bagi waktunya

Tidak tahu persisnya seperti apa

Tapi tahu bagaimananya

Jakarta, 6 september 2017

 

 

Kau tak menunggu ucapan hari raya “idul adha” dari ku

 

Malam idul adha kali ini

Aku enggan menyapamu

Alih alih menyapa dengan maksud mendekat lagi

Ah, sudah cukup

Aku tak seperti aku di tahun-tahun sebelumnya

2014 waktu itu bimbang, menyapa atau menunggu kamu yang menyapa

2015 pun sama

Bimbang

Tak hanya bimbang tapi takut

Takut kamu makin menjauh

Malam takbiran aku tahan agar tak menyapamu

Aku hampir berhasil

Tapi, paginya gagal tak menyapamu

“Selamat hari raya idul adha” kataku pagi-pagi

“Selamat hari raya idul adha” katamu

Ucapan itu selah membuka lagi gerbang

Untuk akrab lagi, kasih lagi

Tahun 2016, masa sakit masa terpuruk

Saling ucap

Tapi sakit

Menahan dan pura pura

Menunduk, ah lupakan

Tahun ini?

Apakah harus sama seperti tahun lalu?

Menyapamu?

Ah, ku kira sudah bukan waktunya

Meski pikiranku dan jari-jariku terus bergerak untuk mengetik “selamat hari raya idul adha”

Aku tahan

Sampai detik ini 23.34 aku berhasil

Tak menyapamu

Sengaja aku sengaja

Aku tahu

Kau tak menunggu ucapan hari raya dariku

 

Malam takbiran idul adha,

Jakarta 31 Agustus 2017

 

Gak hilang dan gak akan hilang

Ketika kau bilang “Itu namanya cinta sejati makanya gak bisa hilang”
Dalam detik itu aku berpikir dan ingin sekali ku ungkapkan “benar! Ini cinta sejati gak akan hilang”
Nyatanya kau paham “Gak mungkin akan hilang”
Tapi kau memaksaku untuk menghilangkannya
Walau dipaksa, tak akan pernah bisa hilang
Kau sudah tahu “Gak mungkin hilang”
Ketika kau muak dengan perasaanku yang gak hilang
Begitupun aku, aku juga muak
Kau dan aku sudah tahu “gak akan bisa hilang dan gak mungkin hilang”
Kita sudah tahu itu, kenapa kau memaksaku untuk menghilangkan?
Sudah tahu hasilnya “gak akan hilang”
Iya, memaksakan yang sudah tahu hasilnya itu menyakiti perasaan
Sekarang aku bilang “Gak hilang dan gak akan”
 (Jogja, 13 Oktober 2016)